Benteng Muara Teweh

0 80

Benteng Muara Teweh

Dahulu Muarateweh merupakan tempat utama perkebunan lada Sultan Banjar. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan satu benteng di tempat ini. Benteng Muara Teweh namanya. Benteng ini berfungsi untuk mempertahankan kekuasaannya di pedalaman Kalimantan.

Nama tempat ini berasal dari bahasa Banjar Kuala, yaitu muara. Dalam Banjar Hulu, muara disebut juga muhara. Dayak Bayan di Dusun Pepas, menyebutnya Nangei Tiwei. Nangei berarti tumbang atau muara, dan Tiwei berarti ikan seluang tiwei. Lain lagi bagi Dayak Bayan di Bintang Ninggi. Mereka menyebut tempat itu Nangei Musini, yang berarti Muara Musini.

Dayak Taboyan atau Tewoyan menyebut daerah di muara itu Ulung Tiwei atau Oleng Tiwei. Ulung Tiwei berarti Muara Tiwei, yang merupakan kata dari rumpun bahasa sekitar Sungai Mahakam. Pengucapan Ulung atau Oleng dalam rumpun bahasa ini kadang disingkat menjadi “Long”. Seperti Ulung atau Oleng Ngiram menjadi Long Ngiram. Ulung atau Oleng Tiwei menjadi Long Tiwei.

Dayak Tewoyan berada di kecamatan Teweh Timur, kecamatan Gunung Purei, Oleng Tiwei (Muara Teweh). Dayak Tawoyan atau Taboyan merupakan salah satu sub Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Mereka mendiami Kabupaten Barito Utara. Dayak Taboyan pada umumnya mendiami sepanjangan tepian aliran Sungai Teweh. Sungai yang mengalir dari Kota Muarateweh sampai Desa Berong. Suku Taboyan merupakan suku terbesar di Kecamatan Gunung Purei. Bahasa Tawoyan memiliki kesamaan leksikal dengan bahasa Dayak Lawangan.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyebutnya tempat ini sebagai Muara Teweh. Sekarang tempat ini menjadi ibukota kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Penulisannya pun disambung menjadi Muarateweh. Di tempat benteng Hindia Belanda itu kini menjadi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Muarateweh. Berada di Jalan Kapten Piere Tandean Nomor 1, Muarateweh.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/sedikit-cerita-tentang-benteng-muara-teweh/
Comments
Loading...