Benteng Jepang Ludai Sumatera Barat

0 69

Benteng Jepang Ludai

Berbicara mengenai pendudukan Jepang di Sumatera Barat pasti langsung terlintas dalam pikiran kita tentang kekejaman Jepang dengan romushanya. Jepang mulai masuk dan mengeoksploitasi sumber daya di Sumatera Barat tahun 1942-1945. Dalam rentang waktu itu, Jepang dalam mengamankan posisinya membuat bangunan pertahanan. Di wilayah Sumatera Barat, persebaran bangunan pertahanan Jepang terbilang sangat banyak. Salah satu sebaran benteng Jepang terdapat di Kabupaten Tanah Datar.

Tanah Datar, luhak nan tuo menyimpan banyak tinggalan kepurbakalaan dari periode prasejarah-pasca kemerdekaan. Pendudukan Jepang di Tanah tidak terlalu banyak menyisakan tinggalan. Sarana pertahanan Jepang salah satunya yang cukup banyak yang tersebar dalam tiga kecamatan yaitu kecamatan Rambatan , kecamatan Salimpaung , dan di kecamatan Tanjung Emas. Kecamatan Tanjung Emas, salah satu wilayah yang menyimpan 2 bangunan pertahanan Jepang, tepatnya di Pagaruyung. Pagaruyung yang juga dikenal dengan darul qoror sangat kental dengan nuansa Kerajaan Pagaruyung. Nah, berikut akan kita jelaskan sedikit tentang bangunan pertahanan yang ada di Nagari Pagaruyung.

Bangunan pertahanan Jepang yang ada di Kecamatan Tanjung Emas berada di Jorong nan IV, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Situs bunker Ludai ini terletak di koordinat E 100º 36’ 35,2” S 00º 27’ 02,2”. Situs ini berada di daerah pinggir sungai Batang Selo, dengan elevasi 500 mdpl. Lahan situs merupakan milik dari kaum Datuk Marajo dan sudah di iinvetarisasi oleh BPCB Batusangkar tahun 2010.

Bangunan bunker di Ludai ini merupakan bangunan tinggalan dari masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942-1945. Keletakan bunker Jepang berada di tepi lereng yang menghadap ke sungai Batang Selo. Arah hadap ke barat, arah ini menghadap ke sungai Batang Selo dan jalan desa. Hal ini memberi indikasi bahwa benteng dipersiapkan untuk menahan serangan musuh yang berasal dari sungai dan darat. Denah bunker berbentuk tabung dilengkapi dengan 2 jendela pengintai di arah barat dan utara dan pintu masuk arah di arah selatan. Bunker ini terbuat dari dengan ketebalan jendela 85 cm dan ketebalan pinutu masuk 70 cm.

Saat ini keadaan bunker Ludai tidak terawat ditandai dengan tertutupnya bunker oleh semak belukar dan rerumputan. Menurut Dt. Rajo Malano menuturkan bahwa sarana pertahanan Jepang ini dulunya selain dijadikan sebagai sarana untuk bermain anak sekitar, juga digunakan sebagai tempat untuk melakukan semedi, namun saat ini bunker telah menjadi dead monument dan tidak terurus.

Tidak jauh dari bunker Jepang yang berada di pinggir sungai Batang Selo tersebut, terdapat satu bangunan yang menurut Dt. Rajo Malano merupakan tempat yang digunakan oleh tentara Jepang dahulunya untuk sembunyi dan mengintai musuh yang di jalan sebarang sungai. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan panjang 340 cm, lebar 260 cm. Bangunan ini terbuat dari coran semen campur kerikil dengan tebal 44 cm.

Source https://dodichandra.wordpress.com https://dodichandra.wordpress.com/2016/02/29/179/
Comments
Loading...