Benteng Darmaga Darangdan

0 15

Benteng Darmaga Darangdan

Benteng Darmaga Darangdan adalah salah satu bangunan benteng yang dibangun oleh penjajah Belanda. Berbeda dengan bangunan sejumlah benteng lainnya yang dibangun di wilayah Sumedang, bangunan benteng Darmaga ini dibangun di aliran Sungai Cipeles. Bentuk bangunannya seperti bangunan bendung yang melintasi aliran sungai berupa pilar-pilar dari tembok yang berdiri dengan kokoh.

Bangunan benteng Darmaga ini berlokasi di Lingkungan Darangdan Kelurahan Kota Kulon, sebelah barat wilayah perkotaan Sumedang. Dengan demikian posisi bangunan benteng ini di aliran Sungai Cipeles berada sebelah hulu dibandingkan dengan aliran sungai di wilayah perkotaan Sumedang. Saat ini, letak bangunan benteng Darmaga ini dikelilingi oleh lahan pesawahan yang menghampar luas di sebelah barat kota Sumedang. Sementara bagian utaranya merupakan lahan pekuburan masyarakat sekitar Lingkungan Darangdan. Bangunan bentengnya memanjang dari utara ke arah selatan melintasi aliran Sungai Cipeles setelah belokan. Tembok bangunannya masih berdiri dengan kokoknya, walaupun di beberapa bagian sudah rusak dan tembok.

Bangunan benteng Darmaga ini terdiri dari bangunan pembatas di sisi utara dan sisi selatan. Tembok sisi utaranya menempel kokoh ke tebing sungai yang berdampingan dengan lahan pekuburan. Ketinggian tembok pembatas bagian utara ini sekitar lima meter dari dasar tembok yang berada di bawahnya dengan bentuk bangunannya menyerupai persegi.

Sementara tembok pembatas bagian selatannya berupa tembok memanjang dengan ketinggian yang berbeda, kedua ujung temboknya memiliki ketinggian lebih rendah daripada bagian tengah temboknya. Ujung bagian muka atau sebelah baratnya (bagian yang menghadap ke hulu), sedikit dibelokkan ke luar. Mungkin untuk memperlebar muka bendungan atau menyesuaikan dengan bentuk tebing aliran sungai di bagian hulunya.

Saat ini, tembok pembatas bagian selatan benteng Darmaga ini sebagian besarnya tidak menempel ke tanah di tebing sungai, namun menjorong ke aliran sungai. Hal ini diakibatkan oleh pengikisan tebing tanah bagian barat aliran sungai yang bersentuhan dengan tembok pembatas bagian selatan. Sehingga tanah yang menjadi tempat menempelnya tembok pembatas bagian selatan ini terbawa air, dan meninggalkan tembok pembatas bagian selatan menjadi terbuka. Bahkan tanah penyangga bagian depan tembok pembatas selatan ini juga ikut terkikis sehingga bagian tembok depannya jatuh ke dalam aliran air sungai Cipeles.

Bagian tengah benteng Darmaga yang melintasi aliran Sungai Cipeles berupa pilar-pilar dari tembok yang kokoh. Ada enam pilar yang berjejer dari utara ke selatan dengan ukuran dan bentuk yang hampir sama. Pilar ini berbentuk mirip trapesium dengan sisi depan berupa tegakan sementara bagian belakangnya memiliki kemiringan. Jika dilihat dari atas, sisi atau ujung depan dan sisi belakang temboknya membulat (setengah lingkaran). Ketebalan tembok pilarnya sekitar satu meteran, kecuali untuk pilar paling selatan, sekitar 60 cm. Di kedua sisi tembok pilar bagian depan terdapat cowakan, yang kemungkinan besar digunakan untuk menempatkan pintu air.

Ketinggian lantai dasar untuk pintu air di sela-sela tembok pilar memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Yang paling rendah berada di pintu air kedua, ketiga dan keempat dari arah utara, sehingga ketiga pintu air ini menjadi jalur mengalirnya aliran air Sungai Cipeles. Sementara pintu air yang pertama dan pintu air kelima lebih tinggi, sekitar satu meter lebih dari dasar pintu air kedua. Kemudian dasar pintu air keenam dan ketujuh lebih tinggi lagi sekitar 50 cm dari ketinggi dasar pintu air kelima. Untuk lebar masing-masing pintu airnya sekitar empat meteran.

Berdasarkan literatur yang ada, benteng Darmaga ini memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan dengan menggunakan fasilitas air sungai. Dengan memiliki pilar dengan pintu air yang lebih tinggi benteng Darmaga ini digunakan untuk membendung air Sungai Cipeles. Jika pintu air benteng Darmaga ini ditutup, maka air yang terbendungnya akan meluber ke daerah daratan yang berada di hilirnya dan lebih rendah. Genangan air ke daratan ini digunakan oleh penjajah Belanda untuk menghambat laju gerakan musuh.

Source sumedangtandang. http://sumedangtandang.com/direktori/detail/benteng-darmaga-darangdan.htm
Comments
Loading...