Benteng Cepuri Kotagede

0 66

Benteng Cepuri Kotagede

Kotagede pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa Panembahan Senapati hingga masa Sultan Agung, sehingga pada masa dahulunya Kotagede banyak memiliki fasilitas yang berkaitan dengan perannya sebagai sebuah ibukota kerajaan. Selama hampir setengah abad, Kotagede telah memiliki tata ruang dan komponen-komponen kota seperti lazimnya kota-kota pusat pemerintahan Mataram Islam. Beberapa peninggalan fisik berupa masjid, sisa baluwarti dan cepuri, serta jalan dan sejumlah toponim. Hal itu menunjukkan, bahwa pada masa lampau Kotagede merupakan sebuah kawasan yang cukup berkembang dan dinamis.

Salah satu komponen penting Kotagede kuno adalah benteng dengan jagangnya yang berfungsi sebagai prasarana pertahanan-keamanan. Benteng cepuri Kotagede menurut Babad Tanah Jawi mulai dibangun tahun 1507 Jawa (1585 Masehi) dan selesai pada tahun 1516 Jawa (1594 Masehi), keterangan tersebut juga sesuai dengan yang tertera dalam Babad Momana. Dinding cepuri merupakan salah satu komponen dalam perkotaan tradisional yang berfungsi sebagai pembatas dunia luar (jaba beteng) antara komunitas rakyat dengan komunitas kerabat raja (jeron beteng).

Selain itu, keberadaan cepuri dapat juga diinterpretasikan sebagai benteng pertahanan. Hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan jagang (parit pertahanan) yang berada di sisi barat, selatan dan timur. Jagang ini memiliki kedalaman 1-3 meter dengan lebar 20-30 meter. Bahan yang digunakan untuk membangun Cepuri terdiri atas pasangan bata dengan ukuran 8 cm x 16 cm x 30 dan dari bahan batu putih dengan ukuran 7 cm x 16 cm x 30 cm sampai dengan ukuran 12 cm x 22 cm x 43 cm.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/benteng-cepuri-kotagede/
Comments
Loading...