Benteng Amorengen Pasaman

0 16

Benteng Amorengen

Benteng ini dinamakan Van Amoregen karena dimabil dari nama seorang mayor Belanda Amoregen. Karena benteng ini dipergunakan oleh Amoregen sebagai pertahanan dalam melawan perjuangan Tuanku Imam Bonjol atau lebih dikenal dengan Perang Padri. Pada tahun 1832 Belanda membangun Benteng Amoregen di Padang Mantinggi. Pada tanggal 21 Januari 1833, Benteng Amoregen diserang oleh kaum Paderi. Setelah berusaha selama seminggu, dinding Benteng Amoregen berhasil dipanjat. Belanda mendapat bantuan dari Raja Gedombang, Regen Mandahiling. Raja Gedombang dapat mengusir kaum Paderi yang telah mengepung benteng tersebut. Belanda sangat senang akan keberhasilannya mengusir tentara kaum Paderi. Raja Gedombang mendapatkan harta rampasan dari kaum Paderi.

Bangunan benteng berdenah persegiempat, sekelilingnya dibatasi gundukan tanah yang ditumbuhi semak belukar. Di luar gundukan terdapat parit yang sebagian telah tertutup akibat aktivitas manusia di masa belakangan. Di sebelah timurlaut dan baratdaya gundukan terdapat unit yang menonjol sebagai bastion. Permukaan tanah di dalam benteng relatif datar dan ditumbuhi tanaman liar. Di beberapa bagian permukaan tanah dijumpai struktur susunan batu yang diperkirakan merupakan fondasi bangunan. Selain itu di dalam benteng ditemukan pula fragmen botol berwarna hijau tua. Benteng ini merupakan perpaduan antara parit dan tanggul yang lokasinya sangat strategis karena berada di atas puncak bukit. Benteng ini berukuran 50 m x50 m.

Ditengah tengahnya terdapat sumur tua berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 3,5 m x 3,5 m yang dahulunya di fungsikan sebagai sumber mata air bagi penghuni benteng. Tinggi tanggul yang mengelilingi benteng lebih kurang 2 meter. Di sebelah selatan benteng terdapat pintu keluar yang sekaligus difungsikan sebagai pintu pengintai. Di sebelah timur terdapat pintu masuk benteng yang menghubungkan langsung dengan areal dalam benteng dengan ukuran panjang 13 meter dan lebar 4 meter. Selain itu, gundukan tanah di sebelah barat benteng terpotong, tampaknya merupakan pintu masuk yang menghubungkan dengan permukiman di luar benteng. Kondisi permukaan tanah di belakang benteng relatif datar dan masih menyisakan setidaknya dua struktur batu. Menurut informasi beberapa tahun sebelumnya susunan batu tersebut masih menampakkan bentuk fondasi sebuah bangunan. Benteng ini dibangun untuk mengantisipasi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan pengikut Tuanku Rao yang berada di sebelah utaranya.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kabupaten-Pasaman.pdf
Comments
Loading...