Bangunan Kuno dan Lori Tidak Terawat

0 28

Bangunan Kuno dan Lori Tidak Terawat

Selain keindahan alamnya, Pulau Mengare ternyata menyimpan kejayaan masa silam. Bekas-bekas sejarah perjalanan bangsa ini terdapat di pulau mungil itu.

Pulau Mengare merupakan tempat strategis bagi pemerintah kolonial Belanda. Hal itu terlihat dari bangunan peninggalan selain Benteng Lodewijk. Hingga kini, puluhan bangunan lawas dengan arsitektur khas Belanda berdiri tegak.

Situs-situs tersebut tersebar di Desa Tanjungwidoro, Watuagung, dan Desa Kramat. Sayang, tidak ada upaya dari Pemkab Gresik maupun pihak terkait untuk merawat dan melestarikan bangunan itu. Beberapa di antaranya bahkan terancam runtuh.

Salah satunya adalah rumah tua di pinggir jalan utama di Desa Tanjungwidoro. Di tembok depan di lantai 2, sama-samar terlihat angka 1915. Bisa dipastikan, angka tersebut adalah tahun pembuatan rumah itu.

Kepala Desa Tanjungwidoro Mastain menceritakan, rumah tersebut telah lama kosong. Ironisnya, tidak ada ahli waris yang masih tinggal di Mengare. ’’Jadi, kami tidak bisa bercerita banyak tentang sejarah,” katanya.

Namun, warga Pulau Mengare sepakat bahwa rumah-rumah kuno itu dibangun oleh lima saudagar bersaudara yang kaya raya saat itu. Yakni, Haji Syafi’i, Haji Mubarok, Haji Mahfud, Haji Muzakkir, dan Haji Rasmudin. Lima konglomerat tersebut meninggal sejak zaman kemerdekaan. ’’Tidak ada ahli waris mereka yang tinggal di Mengare. Banyak yang tidak diketahui keberadaannya,” tuturnya.

Selain bangunan tua, ada peninggalan berupa jalan lori. Yakni, semacam rel kereta api yang dibangun pemerintah Belanda. Zuhri, 65, salah seorang sesepuh, menyatakan bahwa jalan lori difungsikan Belanda guna mengangkut material tanah uruk untuk pembangunan Benteng Lodewijk. ’’Tanah uruk berupa batu kapur diangkut dari Desa Kramat,” ujarnya.

Cerita Zuhri itu klop dengan bukti peninggalan berupa enam lubang raksasa di Desa Kramat. Lubang-lubang berdiameter 30–50 meter tersebut adalah bekas galian tanah uruk batu kapur yang diangkut ke Benteng Lodewijk. Tanah uruk diangkut dengan lori menuju areal benteng.

Sadar dengan potensi wisata alam yang dimiliki, masyarakat Pulau Mangare mulai belajar tentang tourism. Mereka mempersiapkan diri untuk menjadi guide pemandu wisata. Jadi, selain kemampuan mengoperasikan kapal, mereka mempelajari sejarah, ekosistem, dan aneka satwa. ’’Kami belajar sedikit-sedikit. Jaga-jaga kalau ada pengunjung yang bertanya ini-itu. Kalau bilang tidak tahu kan malu,” ucap Ahmad Ja’far, pengemudi kapal. Dengan pemandu wisata yang ramah, pengunjung dijamin tidak akan kecewa.

Dengan potensi wisata yang dimilikinya, Pulau Mengare memang mulai dilirik sejumlah pengunjung. Setelah Idul Fitri 6 Juli lalu, banyak pengunjung yang berdatangan. Tujuan utamanya adalah melihat-lihat bekas Benteng Lodewijk. Puncak kunjungan terjadi pada momen Lebaran Ketupat. Saking ramainya, kapal nelayan kewalahan mengantar pengunjung.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/travelling/24/07/2017/bangunan-kuno-dan-lori-tidak-terawat
Comments
Loading...