Bangunan Kolonial Belanda Teteaji

0 130

Bangunan Kolonial Belanda Teteaji

Bagunan Peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda di Teteaji terletak di sebelah timur Sekolah Dasar No. 4 Teteaji dengan berada dikoordinat S 03, 97 60″, E 119 79 717 ” dengan elevasi atau berada di ketinggian diatas permukaan laut yaitu 45 mdpl. Menurut cerita masyarakat setempat bangunan tersebut sudah ditempati oleh tokoh masyarakat setempat yaitu Haji P. Labi dan Hj. P Zaenab dan telah ditinggali selama bertahun-tahun dan pada saat sekarang ini bangunan tersebut dikontrakkan kepada penjual bakso asi Makassar Takalar yang sebelumnya dihuni oleh penjual bakso asli Jawa tengah.

Bangunan tersebut berukuran kurang lebih 9 meter lebar dan panjangnya 14 meter dengan type bangunan klasik Eropa perpaduan dengan arsitektur Cina dan bugis. Banguan tersebut termasuk dalam kategori Art Deco seperti bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia seperti Bangunan Kantor Walikota makassar, Bangunan Kantor Pos Bandung, Bangunan Mess Villa Yuliana di kabupaten soppeng, Gedung Asia Afrika Bandung dan lain sebagainya.

Sedikit mengulas sejarah tentang bangunan kuno peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Teteaji diperkirakan dibangun sekitar akhir abad ke-18 atau tahun ( 1890 -an ) atau di awal abad ke 19 atau sekitar tahun ( 1900- 1910 ), jika dilihat dari arsitekturnya maka dapat disimpulkan bahwa bangunan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jnderal Hindia Belanda CA. Kroesen pada tahun 1902 seperti pada bangunan Villa Yuliana di kota Wt. Soppeng. Kemungkinan besar bangunan Kuno di teteaji tersebut menjadi tempat kediaman sekaligus kantor Controlieur belanda diwilayah selatan onderafdelling Sidenreng Rappang. Data kongret tentang bangunan tersebut belum dapat kami temukan dari sumber karena selain pelaku sejarah orang pribumi sudah tiada, sumber tertulisnya juga belum ditemukan, hanya data fisik yang dapat menjadi persesi dalam mengungkapkan nilai kesejarahan.

Seorang arsitek Belanda bernama Ir. C.P Wov Scholmaker, beliau terkenal sebagai pelopor bangunan dengan gaya Art -Deco berupa ragam bangunan yang menyertakan dekorasi khusus dan terbuka dengan perpaduan berbagai bentuk dan gaya . adapun arsitek banguann di Indonesia dengan model bangunan serupa dapat dijumpai di pulau jawa dan Bali yang masih terawat dengan baik. Type bangunan kuno yang lain seperti gaya gotyk dan klasik seperti bangunan Ilatia, Yunani dan sebagainya. bangunan peninggalan Belanda di teteaji tersebut sudah kami data dan nantinya akan diregistrasi sebagai banguan Cagar Budaya di wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang sejalan dengan adanya nomenklatur baru dengan adanya seksi khusus yang menangani Cagar Budaya dan permuseuman maka merupakan tugas utama dalam hal menangani tugas pokok seksi tersebut, mudah-mudahan ke depan pelestarian cagar budaya berjalan sesuai yang kita harapkan bersama .

Merujuk pada konvensi Protection of the World Cultural and Natural Heritage – Unesco (1995) , karya arsitektur termasuk kategori warisan budaya. Warisan Budaya diartikan dengan monumen, kelompok bangunan dan situs yang memiliki nilai dan relevansi sejarah, estetis, ilmiah, etnologi atau relevansi dengan antropologi. warisan alam adalah tapak atau lingkungan yang memiliki keindahan alam yang menawan. Problema seperti bangunan bersejarah di daerah lain di Indonesia yaitu keberadaan bangunan bersejarah kurang mendapat perhatian sehingga banyak yang tak terawat. Sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda sesungguhnya sudah ada undang-undang produk Belanda untuk melindungi warisan budaya yaitu ” Monumenten Ordonatie ” yang kemudian pemerintah RI digunakan sampai tahun 1992 dan kemudian terbitlah Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan kemudian direvisi dengan Undang-Undang No,11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Source http://cagar-budaya-sidrap.blogspot.com http://cagar-budaya-sidrap.blogspot.com/search?updated-max=2018-03-08T07:00:00-08:00&max-results=1&start=1&by-date=false
Comments
Loading...