Bangunan Bekas Percetakan Uang Negara Masa Kemerdekaan Tidak Terawat

0 94

Bangunan Bekas Percetakan Uang Negara Masa Kemerdekaan Tidak Terawat

Bangunan itu berbentuk rumah  terbuat dari kayu dengan atap bergonjong, khas rumah adat Minangkabau. Ukurannya 10 meter persegi dengan 20 tiang penyangga sebagai penopang antara bangunan dasar dengan atap rumah.

Konon kabarnya bangunan itu didirikan tahu 1928, atau 10 tahun lagi berusia satu abad. Kini bangunan tidak berpenghuni dengan kondisi yang cukup memprihatinkan karena tidak terawat dan sebagian bangunan itu lapuk dimakan usia.

Bangunan tersebut terletak di Koto Pulai, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Bangunan itu ternyata menyimpan kenangan dan bernilai sejarah karena ditempat itu Oeang Republik Indonesia (ORI) tahun 1945-1949 dicetak. Koto Pulai terletak agak pelosok, sekitar 18 kilometer dari pusat kecamatan.

Salah seorang warga Koto Pulai yang juga pemerhati sejarah, Gendril,  membenarkan cerita itu. Dia menjelaskan bahwa di rumah bergonjong itulah ORI dicetak dengan nilai nominai 25 dan 50 rupiah.

Uang itu digunakan membiayai pejuang untuk melawan penjajahan Belanda,”ucap Gendril yang saat ini bekerja di KUA Lengayang.

Dia menyebut bahwa uang yang dicetak pada pasca kemerdekaan itu penyebarannya sangat terbatas. Uang itu hanya berlaku di daerah Pesisir Selatan dan Kerinci. Dulunya dua derah itu tergabung kedalam satu keresidenan yang dipimpin oleh Bupati Aminuddin ST. Syarif.

Gendril bercerita, selain sebagai tempat percetakan uang, Koto Pulai juga merupakan basis pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Kawasan itu  menjadi kamp pengungsian massa, yang lari dari kejaran tentara Belanda.

Tidak hanya percetakan uang saja. Dari (cerita) sejarah yang saya dapat rumah ini juga menjadi tempat pengungsian dari penjajah ketika itu. Apalagi, untuk menyelamatkan diri dari tawanan Belanda,” ucap Gendril menjelaskan.

Sayangnya, selain bangunan tua kosong itu, tidak peninggalan berupa dokumen atau benda-benda sejarah lainnya yang tersisa. Tapi soal cerita bangunan bersejarah itu diketahui oleh sebagian besar masyarakat setempat, termasuk wali nagari (kepala desa) Kambang Timur, Sondri KS.

Namun Gendril merasa prihatin melihat kondisi bangunan tersebut. Sebagai bangunan bersejarah, dia berharap rumah bergonjong yang menjadi tempat percetakan uang tersebut diperhatikan pemerintah dan dipugar kembali tanpa menghilangkan corak aslinya.

Wali Nagari Kambang Timur Sondri KS berharap, peninggalan perjuangan di daerah itu bisa mendapat perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Sebab, dengan adanya peninggalan sejarah tersebut menjadi jejak sejarah yang ada di kampung itu.

Kami berharap peninggalan ini tetap selalu terjaga. Sebab, setiap peninggalan sejarah harus bisa diketahui dari masa ke masa. Tanda bukti, bahwa perjuangan kemerdekaan itu ada,” tukas Sondri diplomatis.

Source www.rmolsumbar.co http://www.rmolsumbar.com/read/2018/01/22/1229/Bangunan-Bekas-Percetakan-Uang-Negara-Masa-Kemerdekaan-Tidak-Terawat-
Comments
Loading...