Balairung Sari Sumatera Barat

0 67

Lokasi Balairung Sari

Balairung Sari terletak di Tabek, Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat 27264.

Balairung Sari

Bangunan ini berasal dari periode Islam kira-kira abad ke-17/18 Masehi. Balairung Sari Tabek sudah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya di BPCB Sumatera Barat (wilayah kerja Sumatera Barat, Riau dan Kepri) dengan nomor 13/BCB-TB/A/12/2007. Balairung Sari Tabek merupakan bangunan balai adat yang terbuat dari kayu dengan atap dari bahan ijuk dengan enam gonjong dan lantai panggung. Tantetjo Gurhano adalah orang dibalik pembuatan Balairung Sari Tabek ini, dengan menerapkan bentuk bangunan tradisional Minangkabau. Bangunan Balairung Sari ditopang tiang kayu yang berjumlah 18 pasang, dengan tinggi tiang 3 m. sedangkan tinggi panggung adalah 1 m. Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, berukuran panjang 18 m dan lebar 4.40 m.

Keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya. Pada ruang (bagian antara satu tiang ketiang berikutnya) ke-9 dari kanan (utara) lantainya terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya, sehingga seolah-olah lantai bangunan ini terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan. Yang lebih memikat lagi adalah, sistem pasak masih diterapkan pada bangunan, sehingga akan menjadi pola adaptasi yang tepat melihat wilayah Tanah Datar merupakan patahan lempeng yang sering menimbulkan gempa.

Kepemilikan lahan Balai Rung Sari Tabek saat ini adalah milik adat dan atau pemerintah, tetapi dalam hal pemeliharaan telah dilakukan dengan baik oleh pihak BPCB Sumatera Barat. Balairung Sari Tabek masih eksis hingga sekarang. Pemanfaatan Balairung Sari sebagai tempat berkumpul, musyawarah dan atau pertemuan adat, masih bertahan hingga saat ini.

Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap tinggalan masa lalu yang berdampak pada pelestarian Balai adat ini. Aparatur nagari, sekolah, kelompok tani, dan lembaga lainnya banyak pula mempergunakan tempat ini sebagai sarana berkumpul dan musyawarah. Bahkan, informasi dari juru pelihara Balairung Sari Tabek ini menyebutkan bahwa tidak hanya warga lokal, namun juga masyarakat luar Tanah Datar juga menjadikan bangunan ini sebagai sarana rapat atau pertemuan yang sarat dengan nilai budaya dan sejarah.

Selain itu, tak sedikit masyarakat yang berkunjung untuk wisata sejarah dan budaya dan juga pada pelajar yang banyak menjadikan bangunan Balairung Sari ini sebagai objek riset baik itu untuk makalah, artikel dan tulisan ilmiah. Keberadaan bangunan ini terasa sangat berharga bagi masyarakat Minangkabau khususnya. Nilai sejarah, budaya, arsitektur bangunannya yang secara tidak langsung masih menjadi daya tarik bagi khalayak ramai. Dapat dikatakan pula bahwa, Balairung Sari sebagai living monument yang tak lekang oleh roda zaman.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/2016/02/16/594/
Comments
Loading...