Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa Malang

0 9

Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa

Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa terletak di Komplek Perumahan Griya Shanta Jalan Soekarno-Hatta 210 Kota Malang. Balai ini berada di dekat Institut Pertanian Malang (IPM), menempati lahan bekas gedung SD Negeri Mojolangu 2. Jadi, tidak mengherankan jika areal halamannya cukup luas. Gedungnya masih berbentuk layaknya gedung Sekolah Dasar, dengan sejumlah ruangan masih nampak seperti ruang kelas. Di halaman balai tersebut terdapat arca Buddha Aksobhya (Joko Dolog) yang berasal dari percandian Singosari abad XIII M. Joko Dolog ini diapit makara menjadi penanda utama halaman balai.

Di timur pintu masuk terdapat batu gores peninggalan masa prasejarah. Batu gores ditempatkan di luar museum karena ruangan di dalamnya sudah penuh dengan berbagai situs kuno. Batu gores berfungsi untuk mengasah benda tajam. Batu andesit berbentuk kotak ini mempunyai goresan selebar hampir 3 cm dengan panjang sekitar 50 cm. Ada lima goresan di atas batu yang digunakan untuk mengasah senjata. Dinamakan Mpu Purwa karena tokoh tersebut sangat berperan dalam awal berdirinya Singasari. Ia disebutkan sebagai seorang pendeta Buddha aliran Mahayana yang menurut kitab Pararaton sebagai ayah dari Ken Dedes.

Arca-arca yang disimpan di balai ini pada tahun 1970-an pernah disimpan di pojok kantor DPU di Jalan Bengkel. Saat itu ada sekitar 67 arca, namun empat arca sempat dilaporkan hilang. Pada tahun 1985, arca sempat dipindahkan ke Senaputra. Kemudian sekitar tahun 1996-1997 dipindahkan lagi ke Rumah Makan Cahyaningrat (sekarang sudah tidak ada lagi) di Jalan Soekarno-Hatta. Baru pada tahun 2000-an dipindahkan lagi ke balai ini setelah koleksinya semakin banyak.

Pada awal kepindahan ke gedung bekas SD ini, ada sekitar 22 arca milik Gereja Kayutangan ikut dipindahkan. Arca-arca itu berada di Gereja Kayutangan sejak masa pendudukan Belanda. Hingga saat ini, arca di balai telah mewakili lima masa kerajaan, yaitu Kanjuruhan, Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Salah satu arca yang istimewa adalah arca Siwa Mahaguru karena berasal dari abad VII-IX Masehi. Arca ini dilihat dari segi ikonografi menampilkan corak kebudayaan klasik. Pengaruh India tampak pada mukanya, di kepala dalam bentuk jatamakuta (rambut disanggul). Ada sekitar 131 koleksi di balai ini yang hingga kini masih terawat dengan baik.

Koleksi peninggalan purbakala di balai ini sebagian besar adalah arca Ganesha dan Mahaguru. Koleksi lainnya antara lain arca Siwa, Wisnu, Brahma, Trimurti, Dwarapala, Nandiswara, Mahakala, Durgamahisasuramardini, Sangkara, Lembu Nandi, Dwarajala (saluran air), Laksmi (Dewi Kesuburan), sejumlah umpak (batu penyanggah tiang), struktur batu merah, ornamen kuncup teratai, pipisan, miniatur puncak candi, simbar (hiasan pelengkap pada struktur bangunan candi), dan berbagai arca tokoh dewa. Ada juga peninggalan arca dari jaman megalitik muda jaman Majapahit akhir berupa arca-arca tokoh leluhur. Tokoh-tokoh leluhur digambarkan seadanya, dan memang bukan figur tokoh yang dijadikan ukuran. Pada umumnya arca ini ditemukan di lereng-lereng gunung tempat mandala kadewaguruan atau di tempat-tempat terpencil yang jauh dari keraton.

Di balai ini terdapat tiga koleksi yang paling unik di antara dari ratusan koleksi Museum Mpu Purwa lainnya, yaitu patung Ganesha Tikus, arca Agastya, dan arca Brahma masa Kerajaan Singasari. Patung Ganesha terbuat dari batu andesit hitam yang ditempatkan di lemari kaca ini, misalnya cukup unik lantaran sedang menunjukkan ekspresi marah. Duduk di atas mushaka seekor tikus yang ukurannya kecil sebagai wahana. Di Indonesia, arca Ganesya yang digambarkan bersama-sama dengan tikus memang sangat jarang ditemukan, biasanya hanya ditemukan di India. Sejumlah koleksi di balai ini memang unik karena tidak dijumpai dalam relung candi manapun.

Untuk arca Agastya yang dikenal sebagai Siwa Mahaguru disebutkan di dalam Prasasti Dinoyo I, yang sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Tidak seperti arca Siwa Mahaguru lainnya, Agastya koleksi Museum Mpu Purwa di bagian kepala yang diikat adalah rambut, bukan menggunakan surban. Hal itu dinilainya masih menerapkan ajaran klasik Hindu-Budha murni. Raut muka berjenggot dan berbadan kurus juga menunjukkan langgam kebudayaan yang lekat dengan kesenian India tulen.

Sedangkan, arca Brahma berkepala empat memiliki keistimewaan prabha di belakang yang memuat siklus hidup dengan filosofi teratai dengan ukiran detail merupakan satu-satunya di Indonesia. Sayangnya, dari empat kepala, sekarang hanya sisa satu saja. Ada juga sebuah arca Dewi Laksmi yang bentuknya mirip dengan yang ditemukan di Pemandian Belahan. Arca ini ditemukan pertama kali di bantaran Sungai Brantas, Kota Malang. Di tempat ini juga terdapat sejumlah prasasti, di antaranya Prasasti Dinoyo II, Prasasti Muncang, Prasasti Kanuruhan, dan replika Prasasti Taji.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3442/balai-penyelamatan-benda-purbakala-mpu-purwa/
Comments
Loading...