Alun-alun Molibagu, Saksi Aktivitas Kerajaan di Bolmong Selatan

0 19

Alun-alun Molibagu, Saksi Aktivitas Kerajaan di Bolmong Selatan

Alun-alun Desa Molibagu di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) tampak sangat megah dengan pintu gerbang besar dan podium yang tak kalah mentereng. Bangunan-bangunan itu dibangun pada pemerintahan Bupati Bolsel sekarang ini, Herson Mayulu.

Kemegahan bangunan itu ternyata tak kalah nilainya dengan bangunan sejarah yang menyusunnya. Di tempat ini, semua kegiatan tiga pilar pemerintahan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dilaksanakan, bahkan sejak Bolsel masih menganut sistem kerajaan.

“Aktivitas kerajaan di lapangan ini masih diketahui pada tahun 40-an setelah melalui sejarah panjang terbentuknya kerajaan,” ujar Abdi Van Gobel, mantan Sangadi (Kepala Desa) Molibagu, saat ditemui Tribun Manado di rumahnya.

Lapangan itu merupakan tempat aktivitas tiga desa awal di Kecamatan Bolaang Uki sekarang ini. Tiga desa itu ialah Molibagu, Toluaya, dan Popodu.

“Molibagu itu artinya ‘melampaui awal dan ditandai dengan gunung’. Toluaya artinya ‘di tengah-tengah ditandai sungai’. Sedangkan Popodu artinya ‘ujung ditandai lautnya’,” ujarnya.

Ketiga desa itu menjadi rluaou nia (jantung kerajaan). “Evaluasi dilakukan di lapangan terbuka. Siapa saja bisa mendapatkan evaluasi,” katanya.

Lapangan itu bisa menjadi tempat vonis hukuman. Mereka yang melanggar akan langsung dijebloskan ke penjara.
Setiap malam Jumat, kata Gobel, Raja Hasan Van Gobel (raja pada puncak kejayaan) melakukan kegiatan ritual. Di tengah malam burung hantu akan datang ke jendela kamarnya. Burung itu lalu dimintanya “berteriak” di tiga kampung ini. Dari hasil teriakan ini, ia mengetahui kinerja pemimpin desa.

“Ia misalnya akan bertanya apakah mereka mendengar teriakan burung itu di jam tertentu dan dari situ ia mengetahui apakah mereka tidur atau terjaga untuk rakyat,” ujarnya.

Lapangan itu memang berada di depan istana raja. Karena itu, setiap kegiatan adat-istiadat juga dilaksanakan di lapangan ini. Bahkan, di waktu tengah malam lapangan dijadikan tempat sepak bola untuk rakyat apalagi jika disinari terangnya bulan.

Abdi kemudian menjelaskan arti kedekatan lapangan dengan istana raja bahkan berhadapan. Menurutnya, lapangan menjadi tempat mengontrol masyarakat.

“Di depan kerajaan juga ada gedung kadato ta’unia yang tugasnya menguatkan kerajaan. Itu seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mereka harus selalu berkata benar. Tempatnya sekarang sudah menjadi guest house,” katanya.

Saat melakukan evaluasi pemerintahan, kata Gobel, raja akan turun dari tangga utama. Penasihat raja (Jugugu) akan membisikkan segala macam hal kepada raja.

Penempatan jalan, dan gedung sekitar lapangan katanya juga sudah diatur. Semuanya membentuk nama “Allah”.
“Di situ juga ada tugu perjuangan merah putih. Di situ tentara Jepang pernah dibantai,” ujarnya.

Ia menambahkan, dahulu ada taman makam pahlawan di depan rumah mantan sekretaris daerah (sekda), Abadi Yusuf. Di situ ada makam Almarhum Toding dan Bahrun (tentara mati karena memperjuangkan merah putih) yang jenazahnya sudah dipindahkan ke Kotamobagu.

Source http://manado.tribunnews.com http://manado.tribunnews.com/2016/10/16/alun-alun-molibagu-saksi-aktivitas-kerajaan-di-bolmong-selatan
Comments
Loading...