Situsbudaya.id , Klaten – Perahu wisata yang kini menjadi salah satu daya tarik di kawasan Rawa Jombor ternyata memiliki sejarah panjang. Keberadaan perahu di rawa tersebut diyakini bermula dari tradisi Syawalan yang pernah dilakukan oleh raja Keraton Surakarta, Pakubuwono X pada sekitar tahun 1930-an.
Ketua Paguyuban Perahu Wisata Tradisional Rawa Jombor, Sutomo, menjelaskan bahwa pada masa itu pihak keraton menempatkan sebuah perahu bernama Rajamala di kawasan rawa. Perahu tersebut digunakan dalam acara Syawalan yang diadakan setiap tahun setelah perayaan Idulfitri.
Tradisi Syawalan sendiri merupakan pesta rakyat yang berlangsung meriah di sekitar rawa. Dalam acara tersebut biasanya diselenggarakan berbagai hiburan dan kegiatan wisata yang telah berlangsung turun-temurun hingga sekarang.
Dari Perahu Keraton hingga Inisiatif Warga
Pada masa lalu, perahu Rajamala digunakan untuk berlayar dari dermaga di sisi utara rawa hingga ke wilayah selatan yang berada di dekat kawasan Taman Nyi Rakit. Namun seiring berjalannya waktu, perahu milik keraton tersebut mengalami kerusakan.
Melihat tingginya minat masyarakat pada tradisi Syawalan, warga sekitar kemudian berinisiatif membuat perahu sendiri dari bahan bambu. Perahu sederhana itu digunakan untuk mengangkut pengunjung yang ingin menikmati suasana rawa.
Sejak saat itu, perahu-perahu tradisional mulai menjadi bagian dari aktivitas wisata di Rawa Jombor.
Sempat Surut, Bangkit Lagi Lewat Warung Apung
Menurut Sutomo, popularitas wisata perahu sempat menurun pada awal tahun 2000-an. Namun sekitar tahun 2007, kawasan rawa kembali ramai setelah muncul konsep warung apung yang menarik perhatian wisatawan.
Perahu kembali difungsikan untuk mengantar pengunjung menuju warung-warung tersebut. Akan tetapi, kondisi berubah ketika pandemi COVID-19 melanda.
Setelah pandemi, pemerintah melakukan program revitalisasi kawasan Rawa Jombor. Dampaknya, warung apung mulai berkurang dan aktivitas wisata perahu berpindah ke sisi barat hingga selatan rawa untuk melayani penumpang.
Kini Menjadi Ikon Wisata
Seiring membaiknya kondisi pascapandemi, kunjungan wisata ke Rawa Jombor kembali meningkat. Warga pun kembali membuat perahu-perahu baru yang lebih menarik, dengan bahan kombinasi bambu, kayu, dan styrofoam serta dihias berwarna-warni.
Saat ini jumlah perahu wisata di Rawa Jombor mencapai sekitar 52 unit yang dimiliki oleh lebih dari 20 warga setempat. Keberadaan perahu tersebut kini bahkan menjadi salah satu ikon wisata di kawasan rawa.
Salah seorang teknisi perahu, Taufik, mengatakan bahwa sebenarnya wisata perahu di Rawa Jombor bukan hal baru. Sejak zaman nenek moyang mereka, perahu sudah digunakan untuk membawa pengunjung, meski dulu bentuknya masih sangat sederhana dan seluruhnya terbuat dari bambu.
Wisata Semakin Menarik Setelah Revitalisasi
Revitalisasi kawasan membuat Rawa Jombor terlihat lebih luas dan tertata. Salah satu pengunjung asal Weru, Warsini, mengaku senang dengan perubahan yang terjadi.
Menurutnya, wisatawan kini dapat menikmati pemandangan rawa sambil makan di sekitar kawasan wisata, lalu melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu. Biaya naik perahu juga tergolong terjangkau, hanya sekitar Rp10.000 per orang sebagai tambahan dari paket wisata yang ada.