situsbudaya.id , Jawa Tengah – Berdiri megah di atas bukit di lembah Kedu, Candi Borobudur bukan sekadar tumpukan batu andesit. Monumen Buddha terbesar di dunia ini merupakan saksi bisu kejayaan peradaban Nusantara pada masa lampau yang hingga kini terus mengundang decak kagum dunia internasional.
Asal-Usul: Ambisi Besar Dinasti Syailendra
Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan ke-9, tepatnya sekitar tahun 750 Masehi, di bawah masa keemasan Dinasti Syailendra. Pengerjaannya memakan waktu puluhan hingga seratus tahun, melibatkan ribuan pengukir dan pekerja yang menyusun lebih dari 2 juta blok batu tanpa menggunakan semen atau perekat modern.
Struktur candi ini dirancang sebagai bentuk Mandala, yang dalam kosmologi Buddha melambangkan alam semesta. Secara vertikal, Borobudur terbagi menjadi tiga tingkatan yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia:
- Kamadhatu: Tingkat paling bawah yang menggambarkan alam duniawi yang masih terikat nafsu.
- Rupadhatu: Tingkat tengah yang menggambarkan manusia yang mulai lepas dari urusan duniawi tetapi masih memiliki rupa dan bentuk.
- Arupadhatu: Tingkat tertinggi (stupa utama) yang melambangkan kesempurnaan dan ketiadaan wujud.
Masa Kegelapan: Tertimbun Abu Vulkanik dan Hutan Belantara

Seiring runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan masuknya pengaruh Islam pada abad ke-14, Borobudur mulai ditinggalkan. Letusan dahsyat Gunung Merapi diduga menimbun candi ini dengan abu vulkanik, hingga akhirnya tertutup oleh semak belukar dan hutan lebat selama berabad-abad.
Dunia seolah melupakan keberadaan monumen ini sampai akhirnya pada tahun 1814, Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, mendengar laporan adanya sebuah monumen besar yang terkubur di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Raffles kemudian mengutus H.C. Cornelius untuk memulai proses ekskavasi awal.
Pemugaran Besar dan Pengakuan UNESCO
Setelah ditemukan kembali, Borobudur mengalami beberapa kali proses pemugaran. Pemugaran paling masif terjadi pada tahun 1975 hingga 1982 melalui proyek besar Pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan UNESCO.
Proyek ambisius ini memakan biaya jutaan dolar untuk memperkuat struktur fondasi dan membersihkan seluruh relief dari lumut serta pelapukan. Berkat nilai sejarah dan arsitekturnya yang luar biasa, UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia pada tahun 1991.
Borobudur Hari Ini: Pusat Spiritual dan Pariwisata

Kini, Borobudur bukan hanya menjadi destinasi wisata unggulan Indonesia, tetapi juga kembali menjadi pusat peribadatan umat Buddha, terutama saat perayaan Hari Raya Waisak.
“Borobudur adalah ensiklopedia batu terbesar di dunia. Dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha, candi ini menceritakan banyak hal tentang kehidupan masyarakat Jawa kuno dan ajaran Dharma,” ujar salah satu pakar arkeologi nasional.