Museum Wajakensis Tulungagung

0 820

Museum Wajakensis didirikan pada akhir tahun 1996 dengan menempati bangunan berukuran 8 x 15 m yang berdiri di atas lahan seluas 5.706 m². Museum ini terletak di Jalan Raya Boyolangu Km. 4 Desa Boyolangu, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Dinamakan Wajakensis berdasarkan pertimbangan bahwa di daerah Tulungagung Selatan pernah mendunia berkat temuan fosil Wajak 1 dan Wajak 2 yang kemudian dikenal sebagai Homo Wajakensis (Manusia Purba dari Wajak).

Museum ini sebenarnya memiliki koleksi yang cukup tua dibandingkan dengan daerah lain. Namun, karena ruangan museum yang tidak begitu lebar dan lebih mirip dengan ruang kelas pada sekolahan, penataan koleksi tidak optimal. Bahkan, enam prasasti langka terpaksa diletakkan di teras bagian utara dari bangunan museum. Keenam prasasti ini pernah didatangi dan diteliti oleh arkeolog dari dalam maupun luar negeri, akan tetapi hingga sekarang belum terlihat apa isi dari prasasti tersebut.

Untuk memasuki museum ini terdapat satu – satunya tempat yang di gunakan sebagai pintu masuk dan dari pintu masuk ini pengunjung akan di sambut petugas museum guna untuk mengisi buku tamu yang telah di sediakan. Kemudian pengunjung di persilahkan melihat koleksi – koleksi yang di pajang di museum.

Di antara pajangan yang mepet dengan dinding dan yang berada di tengah, terciptalah sebuah lorong yang akan dilalui oleh pengunjung museum. Searah lorong, pengunjung bisa melihat replika Homo Sapiens Wajakensis yang ditaruh dalam lemari kaca, yaitu sebuah fosil tengkorak manusia purba yang diperkirakan berusia ± 40.000 tahun yang lalu ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1880-1890 di daerah Wajak – Besole Tulungagung Selatan. Fosil ini merupakan fosil homo sapiens pertama yang dijumpai di Indonesia. Dengan ciri-ciri memiliki volume otak 1.630 cc, bermuka datar dan lebar, akar hidungnya lebar dan bagian mulutnya menonjol sedikit. Fosil ini merupakan perpaduan antara ciri ras Mongoloid dan ras Austromelanosoid. Di daerah ini juga ditemukan fosil tapirus indicus (tapir), manik-manik dan benda perunggu.

Koleksi keris tilam sari dan keris tudung mediun bisa dilihat pengunjung di lemari kaca bagian barat. Keris tilam sari adalah keris lurus dengan warangka ladrangan, sedangkan keris tudung mediun merupakan keris luk 13 dengan warangka gayaman. Kemudian, pengunjung juga bisa melihat osrok mata dua yang terbuat dari dua lebar kayu berbentuk persegi yang pada salah satu sisinya dipenuhi dengan paku besar.

Di dekat osrok, terlihat landak dan lesung sedang. Landak, dibuat dari besi dan pegangan dari kayu. Besi dipasang secara melingkar (seperti roda) dengan ketajaman pada tiap sisinya. Pegangan terdiri dari dua bilah kayu karena dibuat dari besi tajam, maka disebut landak (seperti binatang landak yang punya banyak duri pada kulitnya). Digunakan untuk membersihkan rumput di sawah dengan cara mendorong landak di antara deretan tanaman padi dengan deretan padi yang lain. Selain itu, museum ini juga memiliki banyak peninggalan Hindu-Buddha berupa arca-arca, prasasti maupun serpihan-serpihan candi yang ditemukan di Kabupaten Tulungagung.

Source Museum Wajakensis Tulungagung Kekunaan
Comments
Loading...