Masjid Besar Cipaganti Bandung

0 6

Lokasi Masjid Besar Cipaganti

Masjid Besar Cipaganti terletak di Jalan Cipaganti No.85, Pasteur, Bandung, Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat 40161.

Masjid Besar Cipaganti

Masjid Besar Cipaganti ini merupakan masjid pertama di wilayah utara Bandung yang menjadi Een Western Enclave (permukiman elite bangsa Eropa) dan bangsawan pribumi. Ide pendirian masjid ini datang dari para Inohong Bandung yang merasa tak ada masjid representatif di wilayah tersebut. Akhirnya, diputuskan akan didirikan masjid di tepi Jalan Cipaganti (kini Jalan R.A.A. Wiranatakusumah). Pembangunan dimulai setelah turun bantuan berupa biaya dari R.A.A. Hasan Soemadipradja, serta sumbangan dari golongan bumiputra.

Rancangan masjid diserahkan kepada arsitek Belanda ternama Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Tanggal 7 Februari 1933 atau bertepatan dengan 11 Syawal 1351 Hijriah, menjadi awal pendirian masjid ini dengan dilakukannya peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Asta Kandjeng Bupati Bandung, Raden Tumenggung Hassan Soemadipradja, didampingi oleh Patih Bandung, Raden Rg Wirijadinata dan Hoopd Panghulu Bandung, Raden Hadji Abdul Kadir. Setahun kemudian, tepatnya pada 27 Januari 1934, masjid ini diresmikan.

Bangunan Masjid Cipaganti berdiri dalam balutan arsitektur Eropa dan Jawa, serta memadukan unsur modern dan tradisional. Atap sirap berbentuk tajug tumpang dua, empat saka guru di dalam masjid yang berhiaskan ornamen bunga bersulur dan ukiran kaligrafi berlafaz hamdalah merupakan bukti adanya unsur seni tradisional Jawa bernuansa Islami. Sementara unsur Eropa terlihat dari konstruksi bangunan yang memakai kuda-kuda segitiga penyangga atap. Namun, penanda unsur Eropa yang lebih khas lagi adalah pada lokasi masjid yang terletak di area “tusuk sate”, yakni antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra. Bingkai pepohonan yang berderet di Jalan Sastra menjadi pemandangan indah khas Eropa yang biasanya tak ditemui dalam rancangan masjid di Jawa.

Pembangunan masjid ini tak tanggung-tanggung. Pembuatan ornamen keramik dilakukan oleh Keramich Laboratorium Bandung, sedangkan pembuatan ornamen kayu dilakukan oleh murid-murid pribumi dari Sekolah Teknik Haminte (Gemeentelijke Ambachtsschool). Bangunan yang tampak saat ini adalah hasil renovasi dan pengembangan pada masa pemerintahan Walikota Ateng Wahyudi, yang dilaksanakan pada 2 Agustus 1979 hingga 31 Agustus 1988. Bangunan asli masjid hanya bagian tengah saja, sedangkan sisi utara dan selatan atau bagian sayap kiri dan kanan adalah hasil penambahan yang dilakukan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam beribadah.

Sejak awal pendiriannya, Masjid Cipaganti telah menjadi cikal bakal penyebaran dan pusat studi Islam di kawasan Bandung utara. Dahulu, mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung) merupakan jemaah yang sering bertandang ke masjid ini, karena lokasinya paling dekat dari ITB. Bahkan, konon, mantan presiden Soekarno pun pernah menginjakkan kakinya ke masjid ini. Pada tahun 1950-an, masjid ini sempat pula dijadikan markas para pejuang. Seperti halnya Bale Nyungcung (Masjid Agung), hingga saat ini Masjid Cipaganti juga berfungsi sebagai balai nikah, khususnya bagi warga muslim dari Keresidenan Bojonegara dan sekitarnya.

Source info.pikiran-rakyat.com http://info.pikiran-rakyat.com/direktori/masjid/kota-bandung/masjid-besar-cipaganti

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.